![]() |
| Oleh ; Ady Suriadi [1] |
Rencana
pemerintah yang akan menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) per April 2012 tentu menimbulkan pro
dan kontra di kalangan masyarakat. Salah satu alasan pemerintah menaikkan harga bahan
bakar minyak khususnya yang bersubsidi adalah untuk menekan pembengkakan
anggaran melalui Perubahan Anggaran dan Belanja Negara yang disebabkan oleh
harga minyah mentah dunia yang semakin tinggi. Namun penulis akan mencoba untuk tidak masuk
dalam kemelut perdebatan antara pro dan kontra dalam tulisan ini. Ada beberapa
pandangan sederhana dalam melihat Bahan Bakar Minyak ; 1) minyak bumi termasuk non-renewable resource dan pemanfaatannya inter-temporal, karenanya kita harus menghematnya agar tidak
dihabiskan sekarang demi kepentingan generasi yang akan datang. Salah satu cara untuk menghematnya adalah harga seyogyanya
mewakili harga ekonominya yaitu kalo barangnya langka harganya
mestinya mahal, kalo berlimpah harganya akan murah. Kalau setuju bahwa BBM langka dan harganya mahal maka kebijakan transportasi dan industri perlu ditata ulang untuk menyesuaikan diri, transport misalnya perlu transportasi massal yg hemat BBM, industri juga demikian. Kebijakan lain tidak perlu semua anggota masyarakat
membayar dengan harga yang sama. Ini
pengaturannya tidak mudah karena kelemahan kita dalam manajemen. 2) Minyak bumi akan menjadi sejarah (ditinggalkan) dan
beralih ke energi alternatif termasuk nuklir, kalo memilih nuklir maka riset
dan persiapan untuk itu sudah dilakukan sejak dini, ini juga tidak mudah karena bukan hanya ditentang banyak negara maju tapi juga orang dalam negeri termasuk kaki tangan negara
maju. pertanyaannya, punyakah kita nyali seperti Iran ?
Matinya semangat riset energi
alternatif dan kemacetan lalu lintas di mana-mana karena membludaknya pemakaian mobil &
motor pribadi, salah satu
penyebabnya adalah murahnya harga BBM di negara kita. Salah satu kelemahan pemerintah kita
adalah sering meluncurkan kebijakan tunggal tanpa diamankan oleh sejumlah
kebijakan lain yg mendukung. Contoh
konkritnya, kalo kebijakan hemat minyak bumi, maka harga dinaikkan, pajak
kendaraan pribadi dinaikkan sehingga diharapkan pemakaian kendaraan
pribadi menurun. Untuk itu
diperlukan kebijakan pengembangan transportasi massal, selanjutnya biaya parkir
kendaraan pribadi juga harus mahal dst.
Jika
menggunakan logika ekonomi memang sulit untuk tidak menerima kenaikan harga
BBM. Pasalnya hukum kelangkaan dimana kondisi jumlah konsumsi BBM domestik jauh
lebih besar jika dibandingkan produksinya menyebabkan prilaku harga menunjukan trend yang
meningkat sepanjang waktu kalaupun turun itu sifatnya temporal. Hal ini diperparah dengan masalah
klasik dunia industri termasuk minyak bumi yakni biaya logistik yang teramat
mahal yang terkandung dalam harga keekonomian. Jika melihat kandungan biaya logistik
pada harga keekonomian minyak bumi olahan (BBM) mencapai 10 kali lipat biaya produksi, ini kondisi abnormal mengingat rata-
rata kandungan biaya logistik pada semua komoditi industri hanya 30% harga
keekonomiannya. namun ini bisa dimaklumi karena mata rantai produksi BBM amat panjang
sehingga nilai ekonomi cenderung lebih tinggi hingga tiba konsumen akhir.
Menjadi pertanyaan
sekarang apa benar dinegara kita ini terjadi kelangkaan dimana demand BBM cenderung amat besar dibandingkan supply, angka 65 juta kilo liter/pertahun konsumsi kita sebenarnya
dan produksi 39.5 juta/pertahun.
Kalau
memang terjadi kelangkaan mengapa penyelendupan BBM ke negara tetangga tidak pernah berhenti
justru meningkat
sepanjang waktu meskipun perbedaan harga memang menjadi akar utama. Namun argumen ini memang lemah apalagi
sebagai orang yang pernah kuliah
ekonomi
tidak boleh bepergang pada hal-hal yang
sifatnya spekulatif dan prasangka bisa- bisa dituding tidak ilmiah.
Sikap kita dalam jangka pendek sulit untuk tidak menerima kenaikan ini, pilihan kebijakan "klasik" pemerintah adalah menaikan harga BBM demi menyelematkan anggaran supaya defisit anggaran tidak terlalu besar. Entah perwujudan kebijakan pemerintah macam apa untuk menyelamatkan "robekan" anggaran yang terlalu besar. Kabar terakhir pemerintah akan menaikan harga BBM sebesar Rp.1.000 - 1.500 perliter tinggal menunggu waktu yang tepat untuk menetapkan harga baru ini.
Kalau harus
menaikan harga BBM
tentunya pilihan kebijakan yang kita nantikan adalah kebijakan yang tidak
terlalu merugikan pemerintah maupun masyarakat, miriplah dengan kondisi prisoner dillema dalam game theory. Masalahnya ketika
pemerintah menaikan harga Rp.1.000
- 1.500/liter
BBM tidak memenuhi unsur keadilan dalam masyarakat kita. Berdasarkan survei yang dilaksanakan Bank Dunia tahun
2010 terhadap pemakai BBM bersubsidi ditemukan bahwa ternyata telah terjadi
ketimpangan dalam pengalokasian sasaran penerima BBM bersubsidi, dengan kata
lain kebijakan subsidi BBM tahun 2010 adalah tidak tepat sasaran. Hasil survei
ini membuktikan bahwa sebanyak 25% dari kelompok rumah tangga dengan penghasilan
tertinggi (kelompok rumah tangga kaya) justru menerima alokasi subsidi sangat
tinggi yaitu sebesar 77%; sebaliknya sebanyak 25% dari kelompok rumah tangga
dengan penghasilan terendah (miskin) ternyata hanya menerima alokasi subsidi
sangat rendah yaitu sekitar 15%. Kesimpulan
ini juga diperkuat dengan temuan survei tersebut bahwa sebagian besar yaitu
sekitar 53% yang menikmati subsidi BBM tersebut adalah kelompok masyarakat yang
memakai mobil pribadi roda-4. Lebih jauh lagi, bila dilihat dari distribusi
alokasi BBM bersubsidi ini ternyata sebagian besar yaitu sekitar 59% dari
penerima BBM bersubsidi berada di wilayah Jawa-Bali, sisanya hanya sekitar 41%
dari penerima BBM bersubsidi berada di wilayah luar Jawa-Bali sehingga menjadi
tidak adil antarwilayah[2]. Bukankah yang seharus membayar lebih
mahal pada orang yang mengkonsumsi banyak. Nampaknya kita tidak mau bersusah
payah menyusun kebijakan yang berpihak pada prinsip keadilan "who eat more must pay more".
Apakah harga BBM perlu dinaikkan atau tidak ? dari kacamata ekonomi selalu menganalisis dari sudut
pandang paling sederhana, kebutuhan dan proyeksi kebutuhan, supply dan proyeksi
pasokan atau dengan hukum kelangkaan,permasalahan harga minyak naik disebabkan
oleh dua hal sekaligus
yaitu pasokan
yang terganggu dan Demand nya
meningkat. Mau atau tidak mau harga minyak akan terus
naik dan harga BBM dalam negeri akan ikut naik, kenaikannya berapa? Disinilah butuh
simulasi untuk menghitung cost dan benefitnya.
Ada beberapa solusi jangka pendek yang
dapat dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak dunia (1)
Subsidi energi
dalam jangka menengah harus mendekati angka zero
percent. Lebih baik subsidi BBM dialihkan untuk membangun
infrastruktur, dialihkan untuk pendidikan, kesehatan, pemberdayaan UMKM, riset
bidang energi alternatif, dan juga cash transfer untuk mengamankan yang short
term, tinggal sekarang regulasi
dan manajemennya yang harus diperbaiki. Subsidi hanya
menguntungkan orang kaya dan menengah ke atas. Secara bertahap persentase subsidi
energi harus dikurangi. kalau dalam
dalam APBN 2011 92,7 triliun yang berarti
sekitar 10 persen APBN maka tahun 2012 angkanya diturunkan lagi hingga hanya 7
persen, tahun 2013 menjadi 5 persen, hingga 2015 tinggal hanya 2,5 persen atau
lebih rendah. Langkah
ini tentu kurang
populer karena memaksa semua orang termasuk sektor industri melakukan adjustment dalam budgettingnya, yang tidak bisa meng adjust bisa jadi mengalami kebangkrutan atau kalau rumah tangga bisa mati kelaparan. Disinilah pentingnya kebijakan lain,
misalnya terkait dengan pangan, energi alternatif,dan lainnya. Kebijakannya tidak bisa tunggal tetapi
harus integrated. Kalau core masalahnya harga energi
maka related problem nya juga harus diatas secara bersama – sama. Koordinasi lintas sektor dan antar level
pemerintahan menjadi penting,
(2) Harga BBM
sulit dihindari untuk tidak naik dalam satu tahun ini merujuk pada
kecenderungan pasokan dan permintaan energi global yang terus naik (apalagi kondisi timur tengah yang semakin memanas), sehingga cash transfer atau dengan pola yang mirip untuk
menolong kelompok masyarakat yang tidak siap menanggung beban harga energi tinggi
harus dilakukan kembali. Membiayainya
bagaimana ? switching anggaran
harus dilakukan, departemen
dan pemerintah daerah harus lebih irit dalam membelanjakan
anggarannya, semua
pengeluaran tidak terlalu penting ditunda dan dialihkan untuk memback up kebijakan cash transfer yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat, (3) Pemerintah jangan hanya menolong
masyarakat miskin tetapi juga UMKM harus dipikirkan, khususnya UMKM yang beban
pengeluaran energinya besar, bagi
mereka bisa dilakukan pengecualian atau melalui mekanisme lain, membantu
mengurangi ongkos produksi pada biaya input dan pembayaran lainnya, (4) pemerintah harus mengumumkan
rencana jangka panjang pengembangan energinya yang integrated dengan proyeksi pengembangan industri, transportasi, dan
pertumbuhan rumah tangga menengah dan kaya yang banyak memerlukan energi
listrik, tanpa
ini, setiap kebijakan hanya akan menjadi pemadam kebakaran, (5) apa tidak sebaiknya masalah
energi diserahkan saja kepada pemerintah daerah dalam hal ini pemerintah
propinsi, pemerintah
pusat cukup sebagai fasilitator dan pembantu umum atau supervisor bagi daerah
yang dari sisi kapasitas keuangan dan sumber daya manusia sangat tidak memungkinkan untuk
mandiri energi. Hal ini
mungkin saja dilakukan mengingat negeri kita yang terdiri dari pulau-pulau dengan karakteristik
berbeda. Kita tidak
mungkin mengelola energi kita sama dengan cara Eropa swasembada energi atau Amerika.
Konsekwensi kenaikan harga BBM tentu akan memicu inflasi bila melihat
histori inflasi jika ada kenaikan
BBM, inflasi akan selalu mencapai dua digit. ini memiliki konsekunesi terhadap
pendapatan riil yang menurun dampaknya akan semakin terasa pada kelompok
pendapatan miskin dan hampir miskin akan semakin yang akan semakin menurun
terutama kaum miskin kota dan penduduk miskin yang ada dipelosok. tentunya
strategi kebijkan pemerintah untuk menalangi pendapatan rill masyarkat yang
semakin menurun kita nantikan pula.
konsekunsi lainya jika inflasi tinggi maka tentunya BI rate yang cenderung turun pada satu tahun terakhir akan memiliki potensi untuk naik lagi tentunya ini merupakan momok bagi perbankan yang menurunkan tingkat bunga kreditnya yang terlalu rendah pasca penurunan BI rate bakal mengalami negatif spread tapi hampir semua perbakan tidak menurunkan tingkat bunga kredit secara ektrim pasca BI rate mengalami penurunan secara gradual pada satu tahun terakhir pada tingkat bunga perbakan diperkirakan akan meningkat lagi memiliki potensi untuk menekan pertumbuhan kredit lebih ekspansif tergantung besarnya BI rate dan sebaran tingkat bunga perbankan.
konsekunsi lainya jika inflasi tinggi maka tentunya BI rate yang cenderung turun pada satu tahun terakhir akan memiliki potensi untuk naik lagi tentunya ini merupakan momok bagi perbankan yang menurunkan tingkat bunga kreditnya yang terlalu rendah pasca penurunan BI rate bakal mengalami negatif spread tapi hampir semua perbakan tidak menurunkan tingkat bunga kredit secara ektrim pasca BI rate mengalami penurunan secara gradual pada satu tahun terakhir pada tingkat bunga perbakan diperkirakan akan meningkat lagi memiliki potensi untuk menekan pertumbuhan kredit lebih ekspansif tergantung besarnya BI rate dan sebaran tingkat bunga perbankan.
Harapan
jangka panjang adalah kita sangat haus dengan energi alternatif maka salah satu
menekan harga minyak bisa turun ketika ia memiliki barang subtitusi (energi
alternatif) hal ini bisa terlaksana ketika Research and Development energi alternatif terus didorong dan
dikembangan namun sayangnya kegiatan ini bukan tidak ada tapi eksistensi terus
di tekan bahkan dihilangkan melaui kekuatan politik dan ekonomi negara maju.
Alternatif yang ditawarkan di atas mungkin ada yang
menilai radikal, tapi seharusnya itu sudah dipikirkan
dan jauh sebelumnya dilakukan dengan tahap-tahapan strategis, tanpa gejolak. Akar masalahnya ada pada pilihan
ideologis sistem ekenomi kita, kalau
fondasinya pada model liberal-kapitalis, maka apapun artefak (kebijakan) yg
diambil, pasti berorientasi pada keuntungan korporasi dunia. Apakah Indonesia memiliki keberanian seperti
Chaves dan Mahmoud
Ahmadinejad yang punya
nyali untuk melawan (tidak
populer) dimata
World Bank, IMF,
AS,dan antek-anteknya. Sepanjang
komprador, korporatokrasi, dan korporasi dunia yg kelola akan terus begini dan tidak akan
memeberi solusi
yang menguntungkan rakyat indonesia.
Namun perlu diingat pekerjaan yang pertama yang harus dilakukan untuk
menjalankan tawaran- tawarabn tersebut diatas adalah basmi dulu koruptor – koruptor yang ada di negeri ini karena
sepanjang korupsi masih jadi bisnis di indonesia, maka pilihan-pilihan apapun,
tidak akan lebih baik.



0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !