HEDONISME KAMPUS - Berita Kampus I Informasi online Mahasiswa
Headlines News :

Info Beasiswa

Info Beasiswa Lainnya... »

Label 1

Komunitas

INFO LOMBA

Info Lomba Lainnya... »
Home » , » HEDONISME KAMPUS

HEDONISME KAMPUS

Written By Wacana Kampus on 07 Maret 2012 | 11.48.00

Dewasa ini banyak paham yang cenderung meralat pola pikir manusia ke arah penentangan aturan, baik hukum maupun agama. Merupakan suatu realitas yang tak dapat dipungkiri dan tak mungkin dihindari oleh setiap orang yang hidup di zaman ini. Kemajuan teknologi informasi dan telekomunikasi, lebih-lebih media elektronik telah menawarkan suatu gagasan baru ke seluruh dunia tanpa memperhitungkan dampak-dampak negatif yang dapat ditimbulkannya terhadap norma agama dan akhlaq manusia. Salah satunya adalah hedonisme. ‘’Hedonisme adalah derivasi liberalisme’’. ‘’Suatu pandangan hidup bahwa kesenangan adalah segala-galanya, bahkan kehidupan itu sendiri. Bagi hedonis, hidup adalah meraih kesenangan materi , yang sangat jelas, sifatnya semu, sesaat dan artifisial.’’ Pandangan ini lahir di barat namun dewasa ini sudah menjalar hampir di seluruh wilayah Negara termasuk Negara kita. Hegemoni hedonisme sangat luar biasa dahsyatnya pada segala segi kehidupan, termasuk pada dunia pendidikan tinggi. Banyak mahasiswa yang ter-injeksi dengan budaya hedon. Jelaslah bahwa hal ini berimbas pada cara pendidikan mereka yang akan melumpuhkan nalar kritis mereka. Misalnya saja mahasiswa ingin cepat-cepat lulus dengan nilai baik tanpa melalui proses yang panjang dan rumit. Mereka seolah-olah hanya mengejar nilai tanpa memperdulikan aspek ilmu pengetahuan yang akan mereka peroleh. Jadi ibaratnya mereka kuliah hanya demi mengejar nilai dan ijazah tanpa mendapat ilmu apapun. Sering di ibaratkan dengan ‘’mahasiswa instan fakultas dodol’’. Belum lagi perilaku budaya konsumtif, di mana disini banyak mahasiswa yang rela menghamburkan uang demi untuk kesenangan semata. Shoping di mall, Nongkrong di café, pesta di tempat hiburan malam.Kesemuanya itu secara perlahan akan mengikis ke-intelektual-an mahasiswa. Hedonisme itu bisa berwujud perilaku yang bebas. Standarnya jelas, bebas dari Agama. Maka, setiap perilaku dan atribut yang menyertainya, yang keluar dari konteks agama, bisa termasuk hedonisme. Mulai dari cara berpakaian yang bebas, yaitu membuka aurat, apalagi pakaian ’minimal’ yang kini lagi ngetrend di kampus-kampus. Sampai perilaku dugemania dan seks bebas yang sekarang kian menjadi-jadi. Mahasiswa yang dulunya tekun dan kritis mulai bergeser. Jangankan kebijakan pemerintah, kebijakan dari pihak rektorat pun yang jelas menyangkut hak dan kewajiban mahasiswa itu sendiri sangat jarang lagi untuk di respon. Apatis, itulah kecendrungan mahasiswa/i saat ini. Jelaslah bahwa Kini, hedonisme itu tumbuh subur dalam kampus. Ironis memang, dunia intelektual dan perjuangan itu kini telah ternoda dengan praktek-praktek kotor hedonist. Ini tidak bisa kita diamkan karena dunia intelektual dan hedonisme sangat bertolak belakang. Sementara kampus adalah tempat menggembleng intelektual dan idealisme. Tidak salah jika tri darma perguruan tinggi mencantumkan pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat. Dimana mahasiswa seharusnya yang diutamakan pergolakan intelektual dalam setiap individu mahasiawa dan kemudian mengabdi untuk masyarakat. Kalau demikian persoalannya, hedonisme adalah racun bagi dunia pendidikan, terutama pendidikan tinggi. Kalau kita membiarkan racun bersarang dalam tubuh kampus sama artinya dengan menyediakan pembunuh karakter intelektual atas mahasiswa dan civitas akademik, serta akan berdampak pada tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang akan menjadi tak tentu arah. Tidak dapat dibayangkan nantinya jika predikat hedonis terbiasa melekat di benak mahasiswa Predikat orang-orang yang tidak mau tahu aturan, tidak mampu menempatkan diri, tidak mengerti visi dan orientasi hidup, orang yang hanya mendewakan pemahaman sempit. Kaum hedonis adalah orang-orang yang tidak memiliki kepekaan sosial, orang-orang yang senantiasa aktivitas mereka hanya untuk eksistensi kehidupan mereka yang sebentar. Tentu hal ini tidak akan kita biarkan terjadi secara berlarut begitu saja. Karena Mahasiswa hedonis adalah juga manusia yang memiliki akal dan perasaan. Artinya perubahan pada komunitas mereka adalah sesuatu yang mungkin, ketika kita mampu menyentuh akal dan perasaan mereka Masih banyak hal yang bisa kita lakukan. Maka dari itu hedonisme struktural harus dilawan. Walaupun hal ini sangat sulit. Baiknya kita banyak menyediakan ruang diskusi bagi mahasiswa/i untuk mengisi kekesongan waktu. Tapi yang lebih dominan diharapkan peran semua pihak baik itu peran pemerintah, peran rektorat kampus, peran lingkungan baik itu keluarga atupun masyarakat, serta peran agama dalam hal ini untuk membentengi diri dalam menghadapi segala macam benturan budaya yang datangnya secara sporadis. (Penulis : NAJAMUDDIN ARFAN, Ketua BEM STIE 2010-2011)
Share this article :

2 komentar:

  1. wah luarbiasa ini postingnya Bang Najamuddin, tapi susah juga yah dihindari yang sifatnya menyenangkan!!!

    bisa gak buat konsep atau formula yang menjadikan budaya hedon itu sebagai suatu potensi kebaikan?? yah salah satu caranya dengan begitu yakni mencari cara yang terbaik meskipun masih dalam telikung budaya hedon.--

    BalasHapus
  2. menawarkan sebuah konsep atau formula dengan mengadopsi perilaku hedonisme tentunya sangat sulit, bagaikan menakar kebersihan madu dalam bejana yang telah di tetesi beberapa tetes racun. Bagi saya, ketersadaran diri lah yang bisa melawan itu semua.

    BalasHapus

Nasional

More on this category »
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Proudly powered by Blogger
Copyright © 2011. Berita Kampus I Informasi online Mahasiswa - All Rights Reserved
Original Design by Creating Website Modified by Adiknya