WAKAnews, JAKARTA - Klaim budaya atau wilayah tertentu dari suatu
negara oleh negara lain sering kali menyulut "kemarahan" mahasiwa dari
negara yang dirugikan. Kemarahan ini pun ditunjukkan melalui berbagai
aksi demonstrasi, yang sering kali berujung anarkis. Melihat fenomena ini, Dean of Rajaratnam School of International Studies (RSIS) Singapura Barry Desker menilai, pemikiran bahwa suatu negara mengklaim budaya atau teritori negara lain sebenarnya tidak perlu muncul.
Mahasiswa, kata Barry, perlu mengerti bahwa mereka hidup di komunitas yang lebih besar. Mereka perlu mengerti bahwa banyak orang hidup berpindah dari satu daerah ke daerah lain. Dan dalam perpindahan itu, mereka membawa serta budaya khas dari daerah asal mereka.
"Seiring berjalannya waktu, budaya yang terbawa ke daerah lain ini kemudian menyublim dengan budaya di daerah baru. Bahkan, bisa jadi budaya tersebut berkembang dan berubah," ujar Barry ketika berbincang dengan Okezone usai Studium Generale "Building Security Partnership in Asia-Pasific" di Bakrie Tower, Jakarta, Jumat (14/12/2012).
Mantan Duta Besar Singapura untuk Indonesia periode 1986-1993 ini mengimbuh, Su adalah nasionalisme adalah sesuatu yang timbul di semua negara, di dunia. Sebagai msyarakat dunia, kata Barry, kita tidak bisa mengambil pandangan bahwa salah satu elemen budaya terbatas milik sebuah negara saja, mengingat proses migrasi yang selalu dilakukan individu tersebut.
"Ketimbang berkelahi tentang siapa yang memiliki item budaya khusus ini, lebih baik kita merayakan keragaman budaya terseut," ujarnya.
Barry menyarankan, sebagai kaum intelektual, mahasiswa sebaiknya menggunakan bekal ilmunya untuk berkontribusi dalam penentuan kebijakan negara masing-masing. "Selain itu, para mahasiswa dan anak muda seharusnya lebih sering bepergian ke luar negaranya sehingga mereka bisa melihat berbagai budaya dan mengerti bahwa lingkup kehidupan ini sangat luas. Mahasiswa perlu belajar tentang negara lain agar pemikirannya terbuka luas," tuturnya. (Abr/okezone)


duetmu a??
BalasHapus