Novi Wulandari adalah puteri kedua pasangan Rapi Setiawati dan Mohammad Mustakim. Penampilan gadis yang biasa dipanggil Novi ini manis dan sangat sederhana. Puteri seorang pembantu rumah tangga itu juga sedikit pendiam. Namun di balik kesederhanaan dan sikap pendiamnya tersebut, tersimpan keinginan yang luar biasa untuk membantu kedua orangtuanya. Novi ingin membantu meningkatkan ekonomi keluarga yang tinggal di Desa Maderejo, Kecamatan Kota Lamongan.
Bapaknya, M Mustakim hanyalah karyawan di sebuah toko di Pasar Lamongan. Sedangkan ibunya, Rapi Setiawati hanyalah seorang pembantu rumah tangga. Karena itu, Novi giat dalam belajar dan memaksimalkan keenceran otaknya. Prestasinya saat Kelas X maupun Kelas XI di SMA Negeri 2 Lamongan cukup bagus. Setiap semester selalu mendapat ranking pertama. Namun, prestasi itu sempat menurun kala memasuki Kelas XII. Prestasi rapornya sempat turun hingga ranking kelima.
Ditemui wartawan di SMAN 2 Lamongan, Novi terharu. Tatapan mata yang tajam itu berkaca-kaca.
"Saya merasa terbebani dengan masa depan saya setelah lulus nanti. Saya takut tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi karena ketiadaan biaya. Orangtua saya hidupnya pas-pasan," tutur Novi, kemarin.
Kondisi ekonomi orangtua yang serba pas-pasan menyadarkan Novi. Dia harus meraih nilai UN tertinggi agar mendapat beasiswa. Ikhtiar itu dimulai dengan puasa Senin-Kamis. Setiap pukul 01.00 WIB dini hari, Novi bangun dari tidur malam. Setelah salat tahajud, Novi melanjutkannya dengan belajar sampai salat subuh.
Hasil doa dan kerja keras tersebut sangat luar biasa. Novi menyingkirkan jutaan siswa SMA dari seluruh penjuru Indonesia. Novi ditetapkan sebagai peraih nilai UN terbaik kedua se-Indonesia untuk Program IPA. Sementara di tingkat Jawa Timur, nilai rata-rata UN Novi yang mencapai 58,50 adalah yang terbaik. Bahkan, sekolah tempatnya belajar, SMAN 2 Lamongan ditetapkan sebagai SMA dengan nilai rata-rata terbaik se-Indonesia dengan nilai rata-rata 9,19.
"Sebelum pelaksanaan UN, saya memang berkeinginan harus bisa berprestasi nasional. Selain untuk membanggakan orangtua, saya juga mendengar akan ada bantuan untuk siswa yang berprestasi nasional. Apalagi ayah juga dalam kondisi sakit," ujar gadis kelahiran 18 Oktober 1993 itu.
Novi pun berharap dapat diterima di jurusan Geofisika dan Statistika Universitas Gadjah Mada (UGM). Jika tak lolos jalur undangan, dia akan menempuh jalur regular di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Novi akan tetap memilih jurusan Fisika.
Kepala SMA Negeri 2 Lamongan Khusnan menyebutkan, selain Novi ada tiga siswa lainnya yang berprestasi dalam UN kali ini. Tiga siswa tersebut, Anggi Arsandi Apriliyanto dari Program IPA dengan nilai 58,45. Dia meraih peringkat tujuh secara nasional. Anggi di tingkat Jatim menduduki peringkat kedua setelah Novi. Sedangkan Sri Rahayu, juga dari Program IPA dengan nilai 58,20 menduduki peringkat ke-17 secara nasional.
Kepala Dinas Pendidikan Lamongan Agus Suyanto menyatakan, akan ada bantuan untuk siswa yang berprestasi dari pemerintah daerah. "Kami berharap pemerintah pusat juga membuat kebijakan khusus untuk beasiswa bidik misi bagi mereka yang tidak mampu," tegasnya.
Selain Novi, siswi SMKN 1 Lamongan Program Akuntansi, Nur Uthfi Khumairo, ditetapkan sebagai peringkat ketiga nasional. Di tingkat Jawa Timur, Nur Uthfi berada di peringkat kedua dengan nilai 38,53. Nur Uthfi juga berasal dari keluarga yang tidak mampu. Ayahnya, Jabar, hanya seorang juru parkir di ruko Kaliotik. Sedangkan ibunya, Anis, hanya ibu rumah tangga biasa. Dia bercita-cita bisa masuk di Universitas Airlangga jurusan Akuntansi. Seperti halnya Novi, dia juga tidak mengikuti bimbingan belajar selain yang diadakan sekolah.


0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !